Tanpa Subak, Bali Tidak Pernah Jadi Destinasi Pariwisata Dunia

Tanpa Subak, Bali Tidak Pernah Jadi Bali
Banyak orang hari ini mengira pariwisata Bali lahir dari pantai, hotel, dan brosur. Itu keliru sejak awal.
Bali dikenal dunia jauh sebelum pariwisata massal, bukan karena kemewahan, melainkan karena peradaban agrarisnya yang hidup dan berfungsi: subak.
Subak bukan sekadar saluran air. Ia adalah sistem hidup—perpaduan teknologi, adat, spiritualitas, dan etika sosial—yang selama ratusan tahun membentuk wajah Bali. Tanpa subak, tidak ada sawah berteras. Tanpa sawah berteras, tidak ada lanskap ikonik. Dan tanpa lanskap itu, Bali hanyalah pulau tropis biasa.

Pariwisata Menumpang pada Subak, Bukan Sebaliknya
Ubud, Jatiluwih, Tegalalang—nama-nama ini dikenal dunia bukan karena resort, tetapi karena lanskap yang bekerja. Sawah tidak hanya indah dipandang, tetapi juga produktif, terawat, dan mengikuti ritme alam. Di situlah daya tarik Bali yang sesungguhnya.
Pariwisata datang belakangan, lalu tumbuh dengan cara menumpang pada sistem yang sudah mapan. Ironisnya, ketika pariwisata membesar, justru fondasi yang ditumpanginya mulai dilupakan.

Subak: Sistem yang Terlalu Cerdas untuk Diabaikan
Subak mengatur air tanpa negara, tanpa pasar, dan tanpa kekerasan. Keputusan dibuat bersama, air dibagi adil, konflik diselesaikan secara adat. Inilah yang membuat subak dikagumi sekaligus diwaspadai—bahkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Fakta yang jarang disadari: Belanda tidak merusak subak. Mereka memetakan, mencatat, dan mempelajarinya. Bukan karena cinta Bali, tetapi karena mereka tahu satu hal:
merusak subak sama dengan merusak stabilitas Bali.
Jika penjajah saja berhitung sedingin itu, pertanyaannya sederhana:
mengapa kita hari ini justru sembrono?

Ketika Subak Rusak, Bali Kehilangan Jiwanya
Hari ini kita menyaksikan:
sawah terputus oleh beton,
air dialihkan tanpa musyawarah,
petani dipinggirkan oleh logika cepat untung,
subak hidup hanya sebagai simbol upacara, bukan sistem kerja.
Pariwisata yang tumbuh di atas kehancuran seperti ini tidak berkelanjutan. Ia mungkin menguntungkan hari ini, tetapi menggerogoti identitas besok.
Wisatawan tidak datang ke Bali untuk melihat gedung. Gedung ada di mana-mana.
Mereka datang untuk keaslian yang hidup, bukan dekorasi kosong.

UNESCO Bukan Awal, Hanya Pengakuan
Pengakuan UNESCO terhadap subak sering dibanggakan. Tapi perlu jujur:
UNESCO tidak menciptakan subak.
UNESCO hanya mengakui sesuatu yang sudah terbukti bertahan ratusan tahun.
Kalau subak runtuh, tidak ada sertifikat internasional yang bisa menyelamatkan Bali.

Menjaga Subak = Menjaga Masa Depan Bali
Subak bukan penghambat pembangunan.
Subak adalah syarat pembangunan yang beradab.
Bali boleh berubah, tapi tidak boleh lupa fondasinya seperti kacang lupa kulitnya.
Pariwisata boleh tumbuh, tapi tidak dengan mengorbankan sistem yang membuat Bali layak dicintai.
Tanpa adat dan budaya subak, Bali tidak pernah menjadi Bali seperti yang dunia kenal sekarang.
Dan tanpa subak di masa depan, Bali akan dikenal sebagai bekas Bali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MBG dan Kesalahan Desain Negara: Saatnya Kembali ke Desa

Modernisasi Manajemen Adat Bali