Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Modernisasi Manajemen Adat Bali

Modernisasi manajemen adat Bali adalah proses memperbarui cara desa adat (desa pakraman) dikelola agar tetap setia pada nilai tradisi, tetapi efektif, transparan, dan relevan dengan tantangan zaman modern.   Intinya: adatnya tetap, cara kerjanya diperbaiki.   Garis besarnya begini:   Digitalisasi tata kelola   Administrasi adat (awig-awig, pararem, keanggotaan krama, iuran, aset pura) dikelola secara digital agar rapi, akuntabel, dan mudah diaudit 📊   Transparansi & akuntabilitas   Pengelolaan dana adat, dana punia, dan aset desa adat terbuka ke krama. Ini menekan konflik internal dan kecurigaan.   Profesionalisme pengurus adat   Prajuru adat tidak hanya berbekal wibawa tradisional, tapi juga literasi hukum, keuangan, dan manajemen konflik.   Sinkronisasi dengan hukum negara   Adat berjalan seiring hukum nasional—bukan berseberangan—terutama soal tanah, pariwisata, lingkungan, dan in...

MBG dan Kesalahan Desain Negara: Saatnya Kembali ke Desa

Oleh: Gungde Ngurah Agung  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya adalah gagasan mulia. Negara hadir memastikan anak-anak makan layak, sehat, dan bernutrisi. Namun dalam praktiknya, serangkaian kasus keracunan makanan di sekolah justru membuka satu fakta pahit: masalah MBG bukan pada niat, melainkan pada desain kebijakan. Makanan bukan komoditas biasa. Ia sensitif terhadap waktu, suhu, dan kebersihan. Semakin panjang rantai distribusi, semakin tinggi risikonya. Sayangnya, MBG dirancang menyerupai proyek katering nasional—mengandalkan vendor besar dengan jarak dapur ke sekolah yang jauh, tanpa penghangat makanan, dan pengawasan lapangan yang lemah. Dalam ilmu pangan, ini bukan sekadar kelalaian, melainkan resep pasti menuju masalah. Pertanyaannya sederhana: mengapa makanan anak sekolah harus dikirim jauh, padahal dapur, warga, dan sumber pangan ada di sekitar sekolah itu sendiri? Desa dan Kelurahan Bukan Masalah, Justru Solusi Selama ini ada anggapan bahwa desa dan kelurahan r...

Jaga Tanah Bali, OSS Sering Dijadikan Alat Kamuflase Pengusaha Oportunis

Gambar
DPRD Bali Menutup Fasilitas Jungle Padel karena Pelanggaran Tata Ruang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Bali melalui Panitia Khusus Tata Ruang dan Perizinan (TRAP) memerintahkan penutupan fasilitas olahraga Jungle Padel yang berlokasi di Desa Munggu, Kabupaten Badung, setelah ditemukan berbagai pelanggaran tata ruang dan perizinan. Fasilitas tersebut diketahui dibangun dengan menggunakan sistem Online Single Submission (OSS) dari pemerintah pusat, namun tanpa memperoleh persetujuan dari pemerintah daerah setempat. Tim pemeriksa juga memastikan bahwa lokasi tersebut berada di Lahan Sawah Dilindungi dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), di mana pembangunan non-pertanian dilarang keras. Dibangun di Lahan Khusus Pertanian Pada hari Selasa, Ketua Panitia TRAP, I Made Supartha, menjelaskan bahwa usaha tersebut hanya mengandalkan izin OSS dan menegaskan bahwa setiap pembangunan di atas lahan LP2B melanggar at...

Mengapa Posisi Ban Truk Trintin, Trinton, dan Tronton Berbeda? Ini Alasan Teknisnya

Gambar
Gungde Ngurah Agung bertanya: Siapa yang punya ide penempatan ban pada truk bisa beda, kelebihan dan kekurangannya apa? chatGPT menjawab: Pertanyaan bagus—ini bukan soal gaya, tapi hasil kompromi panjang antara fisika, ekonomi, regulasi, dan kondisi jalan. Ide penempatan ban yang berbeda pada truk (Trintin, Trinton, Tronton) lahir dari insinyur otomotif + regulator + realita lapangan. Mari kita bedah jujur dan apa adanya. Siapa yang “mencetuskan” ide beda penempatan ban? Bukan satu orang. 👉 Hasil evolusi desain oleh: Engineer pabrikan truk (Hino, Isuzu, Mitsubishi, dll) Regulator transportasi (aturan beban sumbu/JBI/JBKI) Pengusaha logistik & sopir senior Kondisi jalan Indonesia (sempit, bergelombang, tanjakan, tikungan) Intinya: ban diletakkan di mana beban paling masuk akal ditanggung. 1️⃣ TRINTIN (1 depan – 2 tengah – 1 belakang) Karakter: Total 6 roda Fokus di sumbu tengah Kelebihan: ✅ Lebih lincah di jalan sempit ✅ Lebih ringan → irit BBM ✅ Cocok muatan sedang ...

Tanpa Subak, Bali Tidak Pernah Jadi Destinasi Pariwisata Dunia

Tanpa Subak, Bali Tidak Pernah Jadi Bali Banyak orang hari ini mengira pariwisata Bali lahir dari pantai, hotel, dan brosur. Itu keliru sejak awal. Bali dikenal dunia jauh sebelum pariwisata massal, bukan karena kemewahan, melainkan karena peradaban agrarisnya yang hidup dan berfungsi: subak. Subak bukan sekadar saluran air. Ia adalah sistem hidup—perpaduan teknologi, adat, spiritualitas, dan etika sosial—yang selama ratusan tahun membentuk wajah Bali. Tanpa subak, tidak ada sawah berteras. Tanpa sawah berteras, tidak ada lanskap ikonik. Dan tanpa lanskap itu, Bali hanyalah pulau tropis biasa. Pariwisata Menumpang pada Subak, Bukan Sebaliknya Ubud, Jatiluwih, Tegalalang—nama-nama ini dikenal dunia bukan karena resort, tetapi karena lanskap yang bekerja. Sawah tidak hanya indah dipandang, tetapi juga produktif, terawat, dan mengikuti ritme alam. Di situlah daya tarik Bali yang sesungguhnya. Pariwisata datang belakangan, lalu tumbuh dengan cara menumpang pada sistem yang sudah mapan. Iro...